Satu Tahun

Tau kan ada saat-saat dalam hidup kamu yang kami bisa putar ulang di kepala kamu berkali-kali dengan detail yang jelas dan persis? Nggak banyak saat seperti itu dalam hidup gue. Hari ini satu tahun yang lalu adalah salah satunya, yaitu hari ketika Mama dipanggil Allah. Gue bisa inget apa aja yang terjadi hari itu dan yang gue lakukan, menit per menit.

Dari sejak gue bisa mengingat, gue dan keluarga gue tidak diajarkan untuk ‘mengenang’ seratus hari, satu tahun, seribu hari kepergian seseorang. Pandu says it very eloquently in his instagram post today, if I may quote:

Hari ini tepat setahun mama wafat, tapi ini bukan untuk memperingati hari itu, apalagi khusus berdoa karena setiap hari kami semua berdoa untuk Mama.

Ini untuk mengingat Mama.

Seseorang yang punya rasa cinta yang tidak terbatas, terlebih untuk anak-anaknya.

Seseorang yang selalu mendahulukan keluarga walaupun keadaannya tidaklah lapang.

Seseorang yang mengajarkan bahwa nama baik keluarga adalah segalanya.

Mengingat Mama berarti mengingat perjuangannya dalam kebaikan, walaupun buat kami tidaklah selalu nyaman.

Seorang istri yang menjaga martabat suami.

Seorang Ibu dari anak-anak yang rendah hati, sederhana dan selalu menjaga shalatnya.

Begitulah saya memilih untuk mengingat Mama.

Kami tidak melakukan ritual mengenang satu tahun, seratus hari, seribu hari nanti, karena pada setiap shalat kami ada doa untuk Mama. Walaupun begitu, tetap saja semua menit-menit yang terjadi tepat setahun lalu seperti diputar kembali di memori. Over and over throughout the day. Gue takut bakalan break down hari ini. ‘Untungnya’ pagi ini banyak kerjaan dan errands ke sana sini jadi bisa ‘teralihkan’. Pandu juga remote working setengah hari nemenin gue. Walaupun dia non-stop conference call, tapi ada di deket gue. He didn’t say anything, but I know he accompanied me because he knows today would be harder for me. Terima kasih, kamu.

I hope you’re in a better place now, Mama.

Ya Allah, maafkanlah segala kesalahan Mama, terimalah segala amal ibadahnya. Berikanlah Mama semua kebahagiaan yang tidak beliau dapatkan di dunia. Terangkanlah dan lapangkanlah kuburnya ya Allah.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

4 Comments

  1. Nas

    August 22, 2017 at 11:20 pm

    Bapak saya sudah pergi lebih dari 5 tahun. Dan sampai sekarang masih ingat setiap menit yg terjadi di hari itu.

    Semoga bapak saya dan mama mbak meta diterima di sisiNya dan diampuni segala dosanya.

  2. ona

    August 23, 2017 at 5:32 pm

    amiiiinnn

    semoga kita bs jd anak2 yg mempermudah langkah orang tua dimanapun mereka berada

  3. fridays

    October 13, 2017 at 11:30 am

    Idem mbak NAS di atas, Papaku sudah tiada sejak tahun 1990 dan sampai saat ini masih ingat betul apa yang terjadi pada hari itu…. hiks pengen mewek…
    Anyway, seneng banget pas tadi iseng nge-klik blog Mbak Meta (yang udah ku-save di bookmarks) dan ternyata uda aktif lagi, tapi sedikit sedih pas ternyata tulisan2 yang lama uda gak ada…
    Tapi gak papa, tetep seneng baca tulisannya Mbak Meta….
    Keep up the spirit, ya Mbak 🙂

  4. Rika

    October 19, 2017 at 4:41 am

    Aamiin. Luckily Met, as long as we live, we could still give so much to our parents even when they’re gone. I bet your mother is fine there because she has you as a daughter. 🙂

Leave a Reply