22nd Jan2012

Budgeting: Annual Expense

by metariza

Mumpung masih suasana awal tahun, salah satu kegiatan yang gw suka adalah bikin budget…*financialgeek* Kan klo tiap bulan budgetnya mirip-mirip, tinggal copy paste dari bulan kemaren dengan beberapa modifikasi doang paling. Nah, klo awal tahun lebih seru karena musti nyiapin budget buat pengeluaran tahunan. Pernah pengalaman nggak nyiapin annual expenses (see, it’s in plural form)…duh pas musti bayar rada gelegepan juga karena kaget. Sejak itu berusaha untuk menyisihkan dana di rekening khusus untuk annual expenses supaya ketika annual expenses musti dibayarkan, tinggal ambil dari rekening tersebut dan sama sekali ngga mengganggu cashflow bulanan.

Pelaksanaan so far so good untuk beberapa tahun terakhir, kecuali untuk taun lalu…superchaos! taun lalu jebol banget gara-gara pindahan rumah dan ditambah dengan kenyataan gw udah berenti kerja, hence goodbye to those bonuses yang biasanya jadi buffer buat annual expenses :P meuni still yakin klo insyaallah ada rejekinya, tapi ya itu bikin dag dig dug dhuerr juga pas tau-tau udah waktunya servis mobil? eh musti perpanjang STNK dan bayar premi asuransi mobil di bulan yang sama? makjannnggg…

jadi…sebelum gw menjadi keledai karena melakukan kesalahan lagi taun ini. Dari awal taun langsuuung sisihkan dana untuk annual expense di rekening tabungan kepisah, yaitu tabungan KPR P*rm*ta karena (sebagaimana di iklan) semakin banyak tabungan anda, semakin besar pengurang bunga KPR anda. Ya lumayanlah walau kenyataannya cuma berkurang berapa ribu perak doang, tapi tetep aja hati seneng klo ada pengurang-pengurang bunga KPR *kipas-kipas hati supaya adem mikirin bunga KPR*

anyway, kalau ada yang mau nyiapin budget untuk annual expense, ini yang gw siapin untuk keluarga gw tahun ini:

  1. Kurban
  2. Premi asuransi jiwa
  3. Premi asuransi mobil
  4. Perpanjang STNK
  5. Servis mobil per 3 bulan
  6. Birthday expenses. Se-enggak-dirayain-dirayainnya ulang tahun kita (gw, Pandu, Nara dan Leandra) tetep aja musti nyiapin budget karena at least kita makan-makan keluarga, atau bagi-bagi goody bags di sekolah Nara atau beli kue ultah :D
  7. Year end sale! ini penting, karena sale2 itu sungguh menggoda hati dan kadang harganya bener-bener bagus. Jadi sekalian aja klo ada yang dibutuhin, tunggu sampe year end sale. in fact, klo nyiapin dananya malah bisa splurge di akhir tahun dengan good price :D
  8. Vacay…walaupun cukup realistis memperkirakan tahun ini nggak ada liburan, jadi mungkin nabungnya buat liburan taun depan (amin).

 

Kira-kira itu annual expenses gw. Klo ada dana lebih kayanya perlu nabung juga untuk annual expense yang tidak terduga seperti tau-tau mesin cuci rusak kali ya? gw pernah baca pengalaman siapaa gitu…jadi ketika mesin cuci atau oven atau kulkas udah wafat, nggak ganggu cashflownya juga karena udah disiapin. Yaa ini bisa diitung juga sih sebenernya pake penyusutan…tapi first thing first deh, hehe *bilang aja kere*

 

How about you? have you set aside some cash for your annual expenses? share dong…siapa tau ada yang gw lupain

30th Mar2010

Menghitung Dana Pensiun

by metariza

Ahem, postingannya rada serius ah… *oh so not like me :p* hehe, yang dibahas gampang dan simple kok, tapi serius *tetepp serius*

Pernah ngebayangin ngga dalam 25tahun lagi berapa uang 10juta sekarang nilainya berapa?

Dengan asumsi inflasi per tahun 10%, uang 10juta sekarang akan bernilai sekitar 108juta pada 25 tahun lagi.

Nah, sekarang bayangin klo pengeluaran bulanan lo sekarang adalah 10 juta sebulan. Artinya, klo 20 tahun lagi lo pensiun, lo musti punya 108juta PER BULAN untuk memaintain gaya hidup lo sekarang.

Itu kalo pengeluaran bulanan sekarang 10 juta yaa. Klo sekarang 20 juta? Dalam 20 tahun lagi musti ada

216 juta. Inget ya per bulan!

Ngga percaya? Itung aja pake rumus future value:

FV = PV (1+r)n

FV atau Future Value adalah nilai pada masa yang akan datang

PV atau Present Value itu adalah nilai saat ini

r adalah perkiraan tingkat inflasi

n adalah waktu berapa tahun dari sekarang

klo mau gampang, pake excel aja. Masukin rumus FV di excel trus langsung ketemu angkanya (legal cheat, gw males ngitung soalnya…hihi)

Anyway…

Like I said, itu per bulan loh. Enaknya sih, klo udah pensiun nanti gw udah ngga pusing mikirin cari cash inflow gimana lagi. Ya iyalah, udah kerja banting tulang dari muda, masa udah tua masih sibuuuuk aja cari uang? Enaknya sih pas pensiun udah tinggal jalan-jalan, main sama cucu, berkebun, fotografi, mancing (walaupun gw ngga bisa membayangkan gw mancing…I’d be so bored), atau apapun lah yang santai-santai dan seneng-seneng. Don’t we deserve it?

In that case, berarti future value per bulan tadi musti dikaliin dengan … hmmm… berapa tahun life expectancy gw sejak mulai pensiun dong? Yupp…misalnya gw memperkirakan akan bisa hidup sampe umur 85 tahun. Berarti klo mulai pensiun dari umur 55 tahun, ada 30 tahun dong masa pensiunnya? Berarti enaknya gw punya uang sebesar future value tadi dikaliin 30×12 dong? Correct!

sebelum gw jawab berapa yang gw perluin. Balik lagi ke asumsi tadi, bahwa maunya klo udah pensiun gw udah ngga kerja lagi kan? Pengennya dana pensiun ini udah siap, jadi gw tinggal investasiin si bulk amount ini supaya tiap bulan gw tinggal ambil aja buat biaya hidup. Ya kan?  tapiiii gw musti bisa naro dana pensiun itu di investasi yang target returnnya lebih tinggi dari inflasi dong? Ya iyalah, klo ngga bisa-bisa kegerus dong dana pensiun ejk…

nah, klo gitu berarti let say gw taro di produk yang returnya 12%, sementara tingkat inflasi 10%. Berarti net investment gw 2%. Klo pake contoh yang tadi, berarti gw perlu uang sebesar  (nyaris) 30 miliar.

Pingsan?

Tadinya…

Gimana caranya dapetin uang segitu dalam 25 tahun sementara gw bukan miliuner? Boro-boro miliuner, masuk golongan atas aja nggak…hihihi. Banyak cicilan pula. Ada cicilan mobil, cicilan rumah, belum lagi nyiapan dana pendidikan anak dan dana pendidikan anak.. Iya klo anaknya satu, klo 2? Klo 3 apalagi 4? (eh ngga deng, gw ngga berencana punya anak 4, hehe). Biaya haji gimana? Pengen dong  suatu hari naik haji sama Pandu…ah sedapp. Eh trus musti nabung berapa tiap bulannya supaya bisa dapet 30 miliar dalam 25 tahun lagi?

Tentu aja ga bakal dapet dengan nabung! Emang gaji lo berapa? klo gaji gue sih sama sekali ga mampu, jauuuuh dari mampu…xixixixi.

Solusinya ya cuma dengan investasi dengan target return yang melebihi tingkat inflasi. Semakin jauh spread target return dengan tingkat inflasi, semakin kecil dana investasi yang harus kita sisihkan per bulannya. Reksadana saham secara historikal returnnya jauh di atas tingkat inflasi. Jadi balik lagi dengan contoh di atas, untuk mendapatkan si 30 miliar dalam 25 tahun lagi, gw bisa investasi bulanan di reksadana saham yang target returnnya 25% sebanyak ‘hanya’ IDR 1,250,000.

Oh oke, ngga jadi pingsan gw…

Disclaimer:

  • Postingan ini hanya pendapat pribadi ya, tidak bermaksud memberi saran sebagai nasihat keuangan karena gw nulis bukan dalam kapasitas profesional.
  • Investasi di reksadana itu ngga risk free, jadi sebelum memutuskan untuk membeli reksadana atau investasi apapun, analisis sendiri risk return-nya and enter at your own risk.
  • High risk high return, emang beli RD saham peluang returnnya besar ada, tapi peluang nilai RDnya anjlok juga sama, ada!
  • So once again, think carefully and also consider your risk appetite before you enter any risk based investment.

[thumbnail pic source]

08th Jan2010

Financial Planning ala Rasamala’s Family

by metariza

Kemaren Pandu ikut kursus Financial Planning di kantornya. Gw langsung tanya siapa trainernya. Klo sampe Ligwina Hananto gw ngiri, hehehe. Di tengah kursus, tiba-tiba Pandu sms gw

#DeaRDaRLinG (11:54 AM) : Today, I found another answer why I am so glad I marry you :)
Me (11:55 AM) : What?
#DeaRDaRLinG (11:59 AM) : You’re a great financial planner plus you know how to differ “needs” from “wants”
Me (12:02 PM) : I am? I still want lots of shoes. And I do buy them, hehehe
#DeaRDaRLinG (11:59 AM) : Hehe, I believe what you have bought and what you will buy are indeed your needs :)

Kesimpulan:

  1. Baru nyadar klo gw nulis nama Pandu di HP gw dengan bahasa 4L4Y, wakakaka *geuleuh*
  2. My shoes are considered as needs (HURRAYYY)
  3. Idung kembang kempis dibilang jagoan dalam merencanakan keuangan keluarga kita. Padahal kaaaaaaaan, ENGGAK! Hahaha. Eh bntar, I do want to take credit for this matter actually. Gw mungkin ngga jago sejago CFP atau bos-bos gw di kantor yang bujubune pinternya, tapiiii gw bener-bener berusaha cari tau tentang financial planning untuk keluarga kecil gw dan merencanakan dengan sebaik mungkin.

Pulang kantor, Pandu dengan semangat cerita tentang kursusnya, bahkan sejak di perjalanan…tumben. Hehe, fyi ya biasanya yang banyak ngoceh itu gw. Pandu biasanya konsen nyetir dan nanggepin cerita gw. Klo dia punya cerita, biasanya nunggu sampe rumah, mandi, makan trus baru deh cerita. Jadi gw anggep Pandu sangat tertarik. Mungkin karena akhirnya ngerti apa yang selama ini gw ocehin tentang rencana keuangan kita, hehehe *soklebihngertidibandingPandu,xixixi*

Dari obrolan kita, Pandu cukup seneng dengan yang gw lakukan dengan uang kita. Alhamdulillah, gw ga malu-maluin kartu nama gw *ya dong, Pandu dan Nara kan stakeholder utama gw, hihi* tapiii trainer Pandu juga memberikan beberapa insight untuk masuk pertimbangan kita. Semua yang disampein bukan hal baru sebenernya, tapi LUPA untuk dipertimbangkan dengan gaya hidup hedon kita, haha. Ahem, padahal rasanya kaya ditampar, huahua.

Nah, so far yang kita udah lakukan adalah:

  1. Beli asuransi jiwa term life xxx tahun dengan uang pertanggungan xxx atas nama Pandu. Kenapa xxx? Karena gede banget uang pertanggungannya, ngalah-ngalahin kekayanyaannya Bill Gross, ntargw dirampok lagi…dududulalalala *biarin, namanya juga ngayal*
  2. Beli reksadana untuk dana sekolah Nara
  3. Invest di beberapa instrumen keuangan. Tapi sekarang cuma yang syariah aja, ngeri ah. Gw masih inget neraka, takut naro di deposito konvensional lagi.
  4. Punya unitlink –> my worst investment, tapi bakal diterusin soalnya ga mau rugi cut loss sekarang, hehe. Bisa buat dana SMAnya Nara. Don’t judge me! Jitak!
  5. Bikin cashflow  keuangan kita. Baru sampe 2 tahun ke depan sih, karena kita deg-degan juga mengingat bakal ada pengeluaran gede dalam 2 tahun ke depan yang berhubungan dengan rumah. Bikin cashflow cukup bikin tenang karena kebayang kira-kira berapa pengeluaran kita dan kapan.
  6. Bak emak-emak jaman dulu, gw pake amplop-amplop untuk mengontrol pengeluaran bulanan. Ini sejalan dengan nomer 5, karena semua pengeluaran udah dibudget-in, jadi biar gap using gw masuk-masukin amplop deh tiap abis gajian. Misalnya: uang sekolah Nara; uang pegangan Titi di rumah (edan ini gede *manyun* karena banyak yang gw titip bayarin/beliin sama Titi), lunch money gw (nah yang ini, ternyata gw bisa ngirit…sampe sisa bulan lalu bisa beli sepatu, haha), uang iuran pengajian, arisan etc.
  7. Selalu bayar cash atau pake debit card
  8. Kartu kredit dipake untuk promo restoran atau keperluan lain yang lebih gampang pake kartu kredit (misal bayar hotel) dan langsung gw catat sebagai expense bulan itu. Tagihan selalu dibayar full tiap bulan.
  9. Sekian yang gw inget…klo ada lagi yang keingetan gw tambahin belakangan, hehe

Yang udah direncanain tapi belum terlaksana :P

  1. Dana pensiun –> penting!! Biar ngga nyusahin Nara ntar pas kita udah tua.
  2. Dana darurat –> penting juga, tapi katanya ini bisa di-build pelan-pelan…
  3. Dana kesehatan. Dana kesehatan ini bukan untuk gw, Pandu dan Nara karena Alhamdulillah sekarang kita berdua kerja dan dicover sama kantor. Dana kesehatan ini untuk orang tua dan kakak adik kita, just in case sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi (ya Allah, semoga orang tua dan saudara kita ngga sampe kena penyakit).
  4. Pengen investasi lebih variatif lagi. Kalo punya dana nganggur pengen invest yang agresor misal beli saham atau yang cukup konservatif kaya beli emas batangan. Kata Pandu ngga usah banyak-banyak, sekilo aja. WHAT? Segitu dibilang ga usah banyak-banyak. Emang harga sekilo emas sama ama sekilo cabe keriting?

Rencana itu belum terlaksana karena…ga ada dananya, hahaha. Saat ini semua uang sisa setelah dikurangi fixed cost rumah tangga, kesedot buat urusan bayar cicilan KPR, cicilan mobil, tabungan buat ngisi rumah, sama makan enak di luar, bweekkk… yaawbesss makan enak itu termasuk kebutuhan mendasar buat gw dan Pandu. Tadinya sok sok mau nekan budget makan di luar, tapi pas realisasi kita lirik-lirik saling menggoda trus ujung-ujungnya ga tahan “yuk, makan di titik titik”. Semoga ke depannya kita bisa lebih pake otak lagi buat berhemat di urusan makan dan ga melulu nurutin napsu perut. Amin. *don’t count on it though*

Nah, yang terakhir adalah hal-hal yang mau kita lakukan setelah Pandu dapat pencerahan dari kursusnya kemaren. Jadi gini ya, seandainya terjadi apa-apa sama gw dan Pandu, trus nggak ada satu orang pun di dunia ini yang tau klo Pandu punya asuransi jiwa. Gimana caranya coba tu uang pertanggungan bisa jatuh ke tangan Nara? Gimana? Gimana? Ngga ada tu kan sejarahnya di endonesa ini bank apalagi asuransi tiap bulan nelponin kita ngecekin kita masih idup apa ngga? NGGA PERNAH. Katanya di Singapore, klo kita nabung di bank X, tiap 2 bulan sekali si bank X itu akan nelp nasabahnya untuk memastikan si nasabahnya masih idup apa ngga. Ntahlah apa bener gitu apa ngga, tapi harusnya emang gitu kan ya? gw baru kepikiran, klo gitu banyak sekali yaa keuntungan dari bank dari tabungan orang yang udah meninggal. Bener ga? Biasanya kan tabungan itu sifatnya pribadi (kecuali suami istri ya, biasanya saling tau pasangannya punya tabungan di bank apa aja. Ahem, itu klo suami/istrinya ngga punya selingkuhan ya, PLAKK), jadi klo si nasabah itu meninggal, bank terus aja bisa menggunakan tabungan si almarhumah itu, use of fund bokkkk…bayangin dong nasabah satu bank ada berapa, trus berapa banyak orang meninggal tiap hari? untung bener ya bank tersebut. Eh ini hayalan gw aja atau ada prosedur tertentu untuk mencegah hal itu terjadi? Tapi tau darimana coba bank itu klo nasabahnya meninggal klo bukan orang ngetop?

Ah sudahlah, isunya ketinggian buat gw …

Nah, untuk itu…kita musti at least kasi tau salah satu anggota keluarga kita tentang seluruh aset kita. Jiaaahh kaya miliuner aja gw ngomongnya. Walopun aset kita cuma segini-gininya, tapi kan itu warisan buat Nara klo terjadi apa-apa sama kita terlepas dari janji Allah bahwa anak yang ditinggal orangtuanya pasti ada rejekinya. Namanya siap-siap kan lebih baik bukan? Supaya bisa mengurangi beban ke orang yang ditinggal, misal orangtua atau saudara kandung kita yang akan ketitipan anak kita.

Trus gw tiba-tiba keingetan film-film bule gitu, tau kan pas orang tuanya meninggal, si anaknya udah dibikinin trust fund sama mak bapaknya. Trust fund itu dicairin bulanan untuk bayar sekolahnya, uang jajan bulanannya, uang buat kebutuhan hidup bulanannya trus sisanya bisa diambil pas dia udah umur berapee gitu. Di endonesa ga ada yang kaya gituan ya? katanya belum ada…

Apa gw sama Pandu cari pengacara ya buat bikin surat wasiat buat Nara? Eh ini lebay ga sih? Klo ada apa-apa sama gw dan Pandu trus nanti Nara gimanaaa??? *nangis parno*

Orang tua lain gimana?

Hello…other moms and dads? What have you planned/done so far regarding this matter?

[thumbnail pic]