Taking a Leap of Faith

Temen-temen gw, offline ataupun online, pasti tau banget betapa rempongnya gw setaun belakangan ini sehubungan dengan urusan nyari sekolah buat Nara. Mulai dari survey sekolah yang syarat utama non-negotiable-nya adalah ‘deket rumah’ (alias terbatas di kawasan BSD) sampe ngebahas berbagai kurikulum sekolah yang digunakan di Indonesia ini.

Dari longlist dibuatlah shortlist. Dari shortlist sekolah yang dijuju, udah 2 yang dicoret karena:

1. penuh :( Nara dapet waiting list no. 9 dan di final confirmation katanya waiting list yang masuk cuma 1 orang. Later on ketauan ternyata ada lagi 5 orang yang diundang tes tapi temennya Nara yang waiting list no. 4 gak dipanggil. Mamanya temen Nara sebel banget, kok bisa sih ada 5 orang anak lagi yang dipanggil tapi namanya dia ngga termasuk. Jadi mikir macem-macem kan. Kok ngga jelas begini ya? jadi gw juga makin ngga berharap Nara bisa masuk kesini dan agak pesimis dengan sistem administrasinya yang kayanya ngga profesional.

2. sekolah ini di atas kertas oke (baca: di website) dan cocok sama visi misi plus harga terjangkau. Yang bikin turn off adalah toiletnya kotor dan si empunya sekolah punya istri dua. Maaf deh tapi akik langsung nda sreg. Klo gw dianggap shallow, monggo.

;

Selanjutnya ada 3 pilihan, gw tulis satu-satu yaa (sepertinya postingan ini akan panjang sekali, hihi)

Sekolah I

Sekolah A ini sekolah islam konvensional dengan kurikulum diknas (err apalagi karena RSBI udah dihapuskan ya). Harga cukup terjangkau dan bersahabat dengan buku rekening. Sekolah berembel-embel sekolah islam ini ada positif ada negatifnya.

Positifnya, gw lumayan ongkang-ongkang kaki ngga usah susah-susah ngajarin Nara hafalan surat-surat, bacaan sholat, zikir, ayat kursi, dll karena pulang sekolah tau tau anaknya udah bisa aja. MEJIK! *d’oh*

Tapi…di sisi lain gw dan Pandu ngga sreg karena dari yang terlihat oleh mata kita, anak-anak yang sekolah di sana ngga mengerti bener filosofi ajaran Islam yang notabene udah dicekoki dari sejak playgroup. Logika sederhana, klo dikenalkan dan diajari sejak dini, HARUSNYA anak-anak tersebut tumbuh sebagai pribadi yang bisa mengaplikasikan ajaran islam dalam kehidupan sehari-harinya. Pertama kita samakan dulu pengertian islam ya, maksud gw islam ini bukan hanya ritual solat dan puasa aja tapi terhembus dari bagaimana perilaku dan hidup sehari-hari. Kalo Tauhid itu lebih ke urusan hablum minallah ya, tapi selain itu kan orang islam seharusnya bersih (ada dalam ajaran fikih bersuci), sopan sama orang lain apalagi yang lebih tua (akhlak), menghargai pendapat orang lain, menghormati perbedaan dan tidak merasa dirinya yang paling benar, sholat nggak perlu diteriak-teriakin sama gurunya di mesjid untuk merapikan syaf apalagi untuk diem, etc etc.

Gw ngga melihat itu di sana. Gw yakin ngga semua murid di sana begitu, tapi secara general begitulah yang terlihat. Lalu gw sama Pandu sampai pada pemikiran bahwa sistem pendidikannya punya target anak musti bisa hafal ini itu dalam waktu tertentu sampai-sampai mereka lupa bahwa yang lebih penting adalah konsep mengapa anak tersebut PERLU belajar ini itu tersebut UNTUK DIRINYA SENDIRI, bukan untuk nilai.

Buat gw, lebih penting anak mengerti apa tujuannya dia perlu untuk mempelajari sesuatu dahulu sebelum dia tiba-tiba diajari hafal ritualnya. Buat apa Nara hafal bacaan sholat tapi dia ngga ngerti kenapa dia PERLU sholat? buat apa dia hafal Al-Quran tapi ngga paham isinya, apalagi bisa mengaplikasikannya dalam kehidupannya?

Anyway, sekolah ini menurut survey gw terlihat masih menggunakan gaya lama (or should we say, gaya orba?) dalam pelaksanaan hariannya. Maksudnya apa? masih ada sistem les dengan guru yang mana (pengakuan beberapa orang tua murid ya, bukan kata gw) di les tersebut soal-soal yang diberikan miriiip sekali dengan soal-soal ulangan atau ujiannya. Kebayang kan anak-anak yang ngga ikutan les ikut ulangan/ujian dengan fair sementara anak yang ikut les seakan-akan dapat privilege khusus? Orba enough? Sebagai anak yang dulu ngga pernah diikutan les dengan guru sama mak bapaknya, gw tau banget rasanya.

Sekolah II

Sekolah ini enrollment fee cukuplah. Cukup bikin pening maksudnya. I thought I had it all prepared karena beberapa tahun lalu gw udah siapin reksa dananya. Gw ngga pernah expect Nara akan masuk ke sekolah selevel ini karena menurut gw di atas budget kita, dulu waktu bikin financial planning. Time goes by, and by naturally our considerations developed sampai akhirnya sekolah ini masuk pertimbangan. Dananya cukup tapi musti nambahin dari tabungan karena…enrollment fee itu belum include macem-macem ya bapak dan ibu. Ini pelajaran buat gw untuk invest dana pendidikan Nara dan Leandra ke depannya. Memang tergantung sekolahnya, tapi mending ambil kasarnya aja ya klo enrollment fee itu belum termasuk: seragam, buku sekolah, field trip dan ekskul atau biaya lain (misal material untuk seni atau apapun itu). Jadi biaya ini juga jangan lupa diitung ya dalam perencanaan dana pendidikan anak karena jumlahnya lumayan juga

*buka penangkaran monyet*

*karena babi ngepet is so last decade ago menurut Rani. Monyet kan lebih ringan, lincah dan tangkas klo dibanding babi*

*so monyet ngepet it is!*

Sekolah ini canggih! fasilitas mantap. kolam renang ada, jogging track ada, lapangan basket ada lebih dari satu, lapangan bola, you name it. Guru-guru (katanya) oke dan qualified. Jadi okelah, ada harga ada rupa. You get what you paid. Kan bete juga udah bayar mahal tapi minim fasilitas dan grammar gurunya ancur kan?

btw, gw ngga percaya kalo SEMUA sekolah mahal dan berembel-embel internasional dengan kurikulum cambridge atau IB itu PASTI bagus. Tapi gw percaya, kualitas bagus comes with a price. Masalahnya adalah menemukan sekolah bagus yang harganya juga masih masuk ke budget dan JANGAN SAMPE masukin anak gw ke sekolah yang udahlah mahalnya bikin mejret, tapi kualitas guru dan fasilitasnya jelek, anaknya kena bully pula di sekolah, anak jadi stress karena beban sekolahnya terlalu berat dan nggak hepi. Duh celaka bener deh klo sampe begitu :(

Berdasarkan pengalaman beberapa temen yang nyekolahin anak disana, ‘puas’ is the word to describe. Sekolah ini punya sistem yang bagus untuk keamanan, report tentang anaknya baik harian maupun report nilainya. Semua bisa dilihat online. Jadi temen gw di kantor pun selalu bisa tau anaknya ngapain aja hari ini simply by clicking her computer/phone dan login ke akun orang tua.

I’m impressed!

The thing about big school with grand name is they have great system. Semua diatur dengan sistematis, automatic, online, real time…apapun yang terdengar sophisticated deh pokoknya.

lalu apa minusnya? Sesuatu yang dibanggakan sekolah ini adalah academic excellence-nya. Hal ini positif, tapi juga bisa jadi bumerang buat anak.

Sekolah ini mengedepankan academic excellence. Ya walaupun tersebar tempelan mengenai character building juga target mereka, tapi it is so obvious (pengakuan guru maupun beberapa temen orang tua) bahwa academic excellence adalah yang utama. Aura kompetisi sangat terasa.

Masalahnya, nggak semua orang bisa juara 1 kan? yang juara 1 cuma bisa satu orang. Sisanya masuk kategori “bukan juara satu”. Some parents love this principle but some disagree with this concept. Gw termasuk yang…labil. Gw setuju anak itu perlu dipush supaya termotivasi. Tapi gw cuma setuju ngepush anak sampai bisa mengeluarkan bakat/kelebihannya secara optimal. Gw ngga setuju suasana kompetisi sampai bikin anak stress dan tertekan. Where’s the fun in that?

Nah, ada beberapa orang tua murid yang cerita ke gw klo anaknya tertekan di sana karena bebannya berat. Pulang sekolah ngga hepi dan kecapean. Ada beberapa yang memutuskan untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain, less pressure, salah satunya ke sekolah III yang nanti akan gw bahas.

Temen gw yang kebetulan guru di sana pun dengan objektif ngasi masukan ke gw waktu gw tanya pendapatnya buat masukin Nara kesana, “klo menurut lo Nara bisa di push dan fisiknya kuat (karena jam sekolahnya sampe jam 2-an)…go ahead met. Tapi memang, sekolah ini bebannya lebih berat buat anak dibanding sekolah lain” kurleb begitu (maap ya miss klo ternyata salah nangkep).

Selain itu, melihat fee sekolahnya yang bikin gw pusing…bisa gw bayangin yang masuk kesana pasti orang berada semua. Most likely akan ada peer pressure dan gw takut akan ada kesenjangan sosial mengingat gw cukup sadar dimana bumi kita berpijak.

Here comes the dilemma, ketika kita mati-matian berusaha ngasi pendidikan yang terbaik buat anak kita, kita rela invest besar di biaya sekolahnya, tapi ada faktor ini yang juga bisa menimbulkan issue lain. Gw sering denger cerita tentang anak yang minder ke sekolah karena ‘cuma punya mobil satu, innova doang’. Hmmffttt…masa segitu dibilang doang? Ya mungkin karena ngeliatnya ke atas terus ya? Tantangan lain nyekolahin anak di sekolah selevel ini adalah bagaimana mengajarkan gravitasi untuk menjaga mereka tetap menjejak tanah.

Udah ikutan pusing belom?

Mari dilanjutin pusingnya dengan pilihan berikut:

Sekolah III

I love love love the philosophy in this school. They are using the montessori method. Orang bisa ngejelasin tentang montessori berjam-jam sama gw dan gw nggak akan bosen. Gak mungkin gw cerita tentang montessori disini karena gw bisa nyerocos 10 halaman.

Oke, sedikit aja ya.

Gw jatuh cinta dengan prinsip mereka untuk mengoptimalkan kelebihan anak dan membuat belajar dengan fun. Belum lagi cara mereka mengajarkan kemandirian, percaya diri dan tanggung jawab sama anak-anak. Montessori percaya bahwa yang pertama kali perlu diajarkan pada anak adalah kemandirian. Anak yang mandiri akan memiliki percaya diri yang bagus sehingga mereka semakin tertarik untuk mencoba hal-hal baru (baca: belajar) terutama hal-hal yang menarik minatnya. Lalu mereka akan senang melakukannya (belajar). Dengan begitu, otomatis mereka memiliki tanggung jawab untuk melakukannya karena memang mereka yang memilih in the first place.

Hal lain yang bikin jatuh cinta adalah melihat betapa anak-anak yang sekolah disini mannernya baik sekali. They show compassion, empathy and respect to other. Di sekolah ini gak ada yang namanya guru marahin murid, sama sekali. Gurunya menghormati murid sebagai individu dan jika ada masalah diselesaikan dengan diskusi.

Lah trus kenapa ngga langsung daftarin kesini aja dong?

Namanya pengen yang terbaik buat anak ya, pertimbangannya banyak banget. Salah satu main concern kita adalah lulus dari SD montessori lanjutin kemana? mengingat SMP montessori belum ada. Eh ada sih, tapi jauh…jadi bertentangan dengan syarat non-negotiable dalam mencari sekolah yang gw sebut di awal. Kebetulan sekolah montessori yang kita taksir ini belum punya lulusan SD yang bisa dijadiin acuan karena tahun ini adalah tahun pertama mereka punya lulusan elementary. Kemaren gw sempet ketemu dengan salah satu ortu yang anaknya sekarang kelas 6. Ternyata seluruh lulusan ini rencananya mau home-schooling.

Haduh, gw masih jauuuh dari mikir mau home-schooling. Walaupun definisi home-schooling ini bukan gw sendiri yang ngajar ya, melainkan ada gurunya khusus yang ngajar dan mereka belajar di salah satu ruko. Tapi di diknas home-schooling ini kan termasuk kategori pendidikan informal.

Gw belum kepikiran (apalagi punya keberanian) untuk sampe anak gw home-schooling.

Baik principal maupun vice principalnya yang gw ajak diskusi meyakinkan bahwa anak lulusan montessori bisa blend in dengan baik di junior high mana pun walaupun metodenya konvensional atau cambridge karena mereka sudah punya karakter yang kuat, independent, confident dan punya tanggung jawab.

Tapi kan kenyataannya belum ada bukti langsungnya karena memang belum ada yang lulus SD.

Untuk biaya, beti dengan Sekolah II. Beti disini justru lebih mahal Sekolah III. T____T

*mana tadi monyet ngepet? udah menghasilkan belom sih?*

Deep inside, gw tau Nara kan hepi banget sekolah di sini. Issue peer pressure dan kesenjangan sosial malah keliatannya lebih minim disini karena muridnya jauuhhh lebih sedikit. Selain itu, gw ngga perlu kuatir masalah bullying karena sekolah ini bener-bener serius mengenai masalah bullying. Ya ada hubungannya dengan jumlah murid yang sedikit itu ya, jadi tiap guru bisa bener-bener memperhatikan kebutuhan dan masalah tiap anak.

Tapi ya itu…yang masih mengganjal di gw adalah soal nanti mau lanjut sekolah dimana setelah SD. Apalagi kemaren vice principalnya bilang, terkait UN hasil try out anak didiknya lulus kok walaupun ngga dapet nilai sebagus anak-anak yang emang bener-bener di drill untuk ngadepin UN. Nah klo nanti SMPnya gw pengen masukin ke SMP…let say SMP negri unggulan, kan nilai UNnya ga boleh asal-asalan.

Jadi, gw dibilang konservatif ya nggak…karena gw bersedia untuk mencoba metode montessori (yang belum terlalu umum di sini) tapi gw ngga seberani itu juga untuk sampe home-schooling anak gw.

Oya, soal pendidikan agama. Baik sekolah II maupun sekolah III adalah sekolah umum, jadi pelajaran agama cuma dapet sekali seminggu. Yang menarik adalah di sekolah III ini pelajaran agamanya bukan ditekankan pada ajaran bacaan sholat, mengaji dll tapi lebih ke tauhid, cerita-cerita islam, filosofi dan ajaran islam sehari-hari (akhlak dan sebagian pelajaran fiqih seperti bersuci). Gw suka, karena mereka lebih menitik beratkan untuk mengajarkan ke anak-anak kenapa kita perlu sholat instead of menghafal bacaan sholat aja.

Urusan hafalan bacaan sholat, bacaan zikir, hitung-hitungan zakat dll…itu sebenernya kan tanggung jawab gw dan Pandu sebagai orang tuanya (yang pas kiamat bakal ditanya kan gw sama Pandu). Sekolah hanya membantu menambahkan dan gw setuju klo mereka membantu gw untuk memantapkan konsepnya instead of hafalannya. Bukankah itu yang seharusnya?

Gimana? udah mumet bacanya? hihihi *nyari temen* maaf juga klo ceritanya loncat-loncat dan ngga terstruktur soalnya nulisnya kepotong-potong jadi ga konsen.

JADI INTINYA?

Pandu, yang udah eneg saban hari denger gw nanya/ngomong sendiri “jadi Nara disekolahin dimana yaaa?”, bilang dimana aja ya sama kok ada plus minusnya yang bakal bikin gw pusing ga selesai-selesai. Yang penting adalah kita sekarang gali sebanyak mungkin apa sih tantangannya buat kita di tiap sekolah itu dan kita siapin amunisi untuk menghadapi tantangan itu. Karena ngga ada sekolah yang sempurna sesuai keinginan kita. Dan ketika kita udah mantep memutuskan pun, nggak ada jaminan bahwa sekolah itu akan bisa memenuhi semua ekspektasi kita berdasarkan dengan yang kita lihat di website ataupun di kertas.

Contohnya, ketika kita beli rumah ini kita survey sampe hampir 2 taun. Milih lokasi, denah rumahnya yang paling enakeun gimana, developer yang terpercaya apa, sistem drainase lingkungannya gimana, bla blu bla blu…akhirnya kita memutuskan yang terbaik dari semua pilihan kita adalah rumah ini.

apakah sempurna rumahnya?

nope.

fyi, saat ini rumah kita lagi dibenerin di, ntah berapa titik. Lumayan banyak dan major karena ngebobok sana sini. Semua karena ada kebocoran pipa di sana sini, seal di kamar mandi yang kurang rapet, dinding sebelah rumah yang rembes karena sebelah rumah belum dibangun, and so on.

Jadi, pilihan apapun yang kita pilih dengan matang-matang toh akan ketemu sama tantangan/hambatan juga. That’s just the way life is. Just deal with the problem.

And this is why I called this post “taking a leap of faith” because for me, choosing Nara’s school is taking a leap of faith.

Taking a leap of faith means believing or accepting something intangible or unprovable or without empirical evidence.

Because no one can guarantee that everything’s gonna run smooth for Nara and us in whichever school we pick, no one can guarantee he will be happy or successful, no one can guarantee that. I just have to take a leap of faith.

Gw 98% udah memutuskan mau pilih yang mana, tinggal gongnya aja potong pita sama Pandu biar komplit rempongnya :P

Selanjutnya, tinggal pasrah aja sama Allah, semoga keputusan yang kita ambil ini yang terbaik buat Nara, semoga jangan sampee keputusan gw malah menzalimi anak gw.

Makasih yaa Pandu dan temen-temen gw yang udah dikit lagi gantung diri karena kebosenan denger gw ngomongin sekolaan mulu :P soon your misery will be over.

71 thoughts on “Taking a Leap of Faith

  1. Hi Kak Meta,

    Saat ini saya berada di kelas 2 SMA Santa Ursula BSD, dan sejak saya TK saya sudah bersekolah di Santa Ursula BSD. Mengingat Santa Ursula BSD adalah sekolah Katholik, mungkin tidak semua orang ingin masuk ke sekolah ini. Tapi menurut saya pendidikan yang diberikan di Santa Ursula BSD sangatlah bermanfaat, karena di sekolah ini bukan hanya akademik saja yang di asah, namun pribadi setiap siswa sangatlah digodok. Selama saya bersekolah di sekolah ini, terdapat pula banyak siswa yang non-Katholik. Memang tidak ada pelajaran khusus bagi mereka yang non-Katholik, namun mereka tetap mendalami agama mereka di luar sekolah. Dan juga pelajaran agama di Santa Ursula agaknya bisa dibilang sebagai pelajaran yang universal, memang patokannya adalah Katholik, namun tidak terlalu terpaku dengan Alkitab. Sebagai murid Santa Ursula BSD, saya sangat merasakan manfaat bersekolah disini, karena saya mendapatkan banyak sekali nilai-nilai yang dikembangkan dari sekolah ini. Dengan visi sekolah yaitu menjadi manusia utuh, cerdas, dan melayani; saya merasakan betul bahwa di sekolah ini kemampuan akademik dan motorik serta akhlak betul-betul diasah di sekolah ini. Semoga sharing dari saya dapat bermanfaat bagi kakak.

    Regards,
    Andrea Arief

    • Hai Andrea,
      seneng deh dengernya…berarti kamu cocok dan sreg sama sekolahnya. Pasti orang tua kamu bangga deh punya anak kaya gini.
      Temen-temenku juga banyak banget berencana masukin anaknya ke sekolah katolik, apalagi klo yang dulunya sekolah katolik juga karena bener-bener merasakan sendiri manfaatnya.

      Thanks ya Andrea untuk sharingnya.

  2. Kak Meta,

    Dulunya aku sebel kak sekolah disini, karena di Santa Ursula semuanya serba disiplin kan, tugas banyak ulangan udah makanan sehari hari. Tapi aku baru nyadar belakangan ini kalau semua itu emang dipersiapkan supaya kita terbiasa buat pas kuliah. Tapi memang sekolah Katholik lebih disiplin. Semoga bisa segera memutuskan sekolah untuk Nara ya, Kak.

    Regards,
    Andrea

  3. Kalo soal homeschooling, Rittar bisa cerita banyak, Met.. Plus Aaron kalo ga salah sekolah di yang metode Shichida.
    Puyeng yaaa ngomongin sekolah anak..
    Btw, salam kenal, gue temen kuliahnya Rittar sekaligus pelanggan Smallbites.. :)

    • Hai Andina…salam kenal juga.
      Lo temennya Asti juga bukan ya? Kayanya sering liat nama lo di mention sama Asti.
      Gw sempet banyak baca soal homeschooling, tapi metode ini rasanya nggak pas buat gw. Metode ini punya banyak sekali kelebihan, tapi bakal berhasil klo orang tuanya fully support dan konsisten.

  4. metttttttttt.. gwe nebak resultnya: sekolah numero tigo,,, kasi tau yak ntar
    gwe lagi nunggu pesenan addictea nih ga sampe2 pdhl pengen pulaaangg (uda lama gwe ga liat matahari, loh curcol)
    i miss youuuuuuuuu

  5. dear meta, mau monyet?
    ada nih gue. betina apa jantina met? terus mau monyet remaja atau yang udah senior? kapan kapan ngepet bareng yok met. lo yang jagain, nanti gantian gue. *udah puyeng pala ikut ngebul mikirin sekolah bocils**posting gilak ngotor2in blog lo seperti biasa**salim sama pandu*

  6. Makasih Mba Meta, boleh ga sih kalo kami nanti nanya-nanya ke Mba Meta soal sekolah ini? Denger temen yang nyekolahin anaknya ke sekolah montessori langsung nelen ludah denger biayanya. Tapi keknya kalo sekarang sih masih pengen memilih montessori karena semua alasan yang ditulis Mba Meta, tapi alasan yang bikin ragu juga bikin mikir lagi…

    • Temennya masukin ke montessori mana Dan? Mentengkah? klo iya, yang di BSD lebih murah kok dari yang sana…hehe *kurang suportif apa gue?hihi*
      Silakan ajaa klo ada yang mau ditanyain Dan…sambil makan-makan cupcake kayanya asik ya, haha

  7. ebuset neng meta, nama grup aja tidak boleh disebut tapi quoting yg amat sangat tidak penting nama gue ditulis jelas2, hahahaha…

    pusing ya mikirin sekolah anak, gue udah pasrah aja deh. biar keira tar masuk sekolah mana aja asal negeri, biarlah dia mencoba survive sendiri disana. toh orang tuanya aja bisa, masa anaknya yg lebih pinter aja gak bisa. iya gak? ya ya ya? *mulai ngeselin*

    • nyahahaha..soalnya ide lo cemerlang banget Ran, musti diquote.
      Sekolahnya Keira sekarang ngga ada SDnya ya Ran? kayanya yang sekarang udah ok tuh…klo ada SDnya kan enak tinggal ngelanjutin. Keira survivelah, kan bapak ibunya pinter, putra putri terbaik bangsa (inget ga lo pas diterima kuliah ada spanduk tulisan kaya gitu “selamat datang putra putri terbaik bangsa”? hihi) jadi pasti turun secara genetis dong :)

  8. metaaa langit mah ga diinjek, tp dijunjung…. *halaahhh* *dibahas* hihi

    udah legaan skrg ya met, gw 2-3thn lg bakal uring2an jg deh nih kayaknya, secara emak rempong ye… :D

    smoga nara cocok ya sama sekolahannya… :*

    • HAHAHAHAHA
      Maksud gw ituuu…hahaha *langsung dibenerin*

      Menurut gw mending skrg jgn dipusingin dulu riek karena dipusingin sekarang pun ga bikin lo bisa memutuskan final lebih cepet, seiring dengan berjalan waktu pasti pertimbangannya berkembang…jadi in total jangka waktu pusingnya lebih lama, hehehe

      Mikirin boleh nanti, yang penting sekarang siapin dananya aja…biar nanti tinggal milih. Orang yang punya pilihan kan lebih enak posisinya.

  9. Meta curhatttt seada2nyaaa, Bagus Met.. Bagus buat Kesehatan.. ???? Akuuuu tidak pusing lho! Seneng bgtttt kalo ada bahasan sekolah2 gini, seriously! Hunting preschool aja dari si Calibre umur 10 bulan, 1/2 bln sebelum doi melangkah (bisa jalan) pertama kali, ahahahah

    To be honest dari masih dalam perut, udah doa super kenceng supaya nantinya setiap proses cari Sekolah bisa gampang (dari preschool-kuliah).. Dan krn aware bakalan jd supir Pribadi boss kecil soalnya ditambahin supaya perjalanan ke Sekolah gak ribet Parkir gampang dan kalo bisa bangunannya baruuu, ahahahah (masih lebih gawat gua yak?!) hihihi

    Anyway, hati gw lebih sreg ke opsi yg ketiga (walau gak tau Nama sekolahnya apa).. Susah skrg bisa ada Sekolah yg membekali anak kita dengan konsep Serba baik (kesopanan, kesantunan, segala manner, budi baik, good deeds, etc etc..) lagipula smp kan masih lama bgt Met, pasti nanti dikasih jalan mudah lancar dan cocok buat Nara dan org tua nya.. Apalagi pasti nanti Nara bakalan sumbang saran mana yg kiranya doi cocok dan suka dan tertarik dan enjoy.. ????

    Sabtu ini bukannya ada seminar ya yg bahas Sekolah anak?? Pingin jg ikutan, mudah2an sempet dtg.. ????

    Pokoknya bisa kontak gw dan kita ngobrol sampe budeg berdua ya Mettt.. Ahahahah termasukkkk gerammmm sama sistem Sekolah Di negeri ini yg lama bgtttt dibenahinnya…. ????

    Asliiii swearing Lo kocakkkkk!! Wkwkwkwk

    Nite2

    • Hai Adis, hehe sama yaa hebohnya nyari sekolah. Doanya detail yaa sampe mikirin supaya dapet sekolah yang nyari parkirnya gampang, hihi.

      Kemaren Nara abis trial di sekolah III dan pulangnya bilang senengggg banget, hihi.

      Thanks ya Dis komennya :) Iya ada seminar tentang sekolah besok, tapi gw ngga ikut…mengingat gw kan labil yaa, ntar malah jangan-jangan pilihan gw jadi nambah lagi, haha

  10. Pusing ya Met.. ga bosen kog sungguh. Dan sebenarnya cari sekolah macam jodoh-jodohan. Dulu pas nyari TK udah ngincer beberapa, udah menetapkan hati.. pas jalan pulang ketemu sebuah TK yang sebelumnya kita ga tau. Nyoba. Ngobrol. Loh kog cocok. Hahaha. jadi itu deh.

    SD pun begitu… Dan seiring perjalanan ada kebijakan sekolah yang berkembang, tadinya cocok tiba-tiba ga cocok. Nah.. mulailah kita rajin menyatakan pendapat di rapat-rapat POMG.

    Semangat! Semoga diberikan yang terbaik dan diberikan kelapangan dada saaat menjalaninya. Amin

    • Iya ya Ci, feeling lebih banyak berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk hal-hal kaya gini.
      Setuju juga sama constant review dari sekolah yang udah sreg itu karena bisa aja manajemennya ganti, principalnya ganti atau kebijakannya ganti trus jadi ngga sejalan sama ekspektasi kita lagi…jadi bisa disalurkan aspirasinya lewat POMG.
      Makasih yaa doanya, semoga keputusan kita yang paling baik…amin.

  11. Yap betul bgt….setiap pilihan itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya, dan belum tentu yg mnrt org lain baik, bagi kita jg baik.

    Aku hrs bersyukur apa gimana ya, milih Sekolah di Bekasi ga serumit di bsd krn pilihannya dikit wkwkwkw…waktu milih skul Azka, cuma 2 pilihan aja yg sesuai category kami, lebih gampang kan mutusinnya Hihihihi…..malah yg lebih pusiiiing dan sampe bikin nangis darah itu ya….milih rumah. Saking banyak pilihannya, krn kan ga mesti deket kantor dan gak mesti byk sekolah, bukan buat ditempatin

  12. Hi mba,

    Percayalah, sekolah agama nggak menjamin anaknya bakalan jadi sholeh/sholehah. Apalagi yang ada embel2 “Al-something”nya. *tunjuk almamater sendiri*
    Soalnya aku dari TK-SMA di situ *for the sake of gak pake tes masuk terus. hihi* dan di sana selain urusan pendidikan agama yang gak ngena ke anaknya, lingkup pergaulannya juga gak oke karena borju abisss.. Ngajarin anak secara gak langsung buat kompetitif secara materi.. >.<

    Semoga cepet nemu sekolah yang paling oke buat Nara ya mba.. *hugs*

    • Hihi ada pencerahan dari almamater sekolah tipe I ni…makasih yaa masukannya.

      Makasih ya doanya, semoga keputusan kita ini yang paling baik buat Nara…let God do the rest…

  13. Salam kenal……
    Iya bener, pasti ada positif negatifnya tapi mudah2an memilih yg terbaik.
    Gw pernah merasakan soalnya Valisha (anak pertama) udah kelas 2 sekarang, dulu tuh nyari yg bagus & sesuai budget wuiiiih pusing kepala tiap hari. Tapi alhamdulillah liat perkembangan anak sekarang oke banget walo ya ada juga gosip2, bisik2 emak-emak di sana yg ada aja hehe.
    Sekarang lagi pusing mikirin smp kemana, masih jauh ya heheha, tapi cari2 lah. Thanks infonya ya, kebeneran rumah ga gitu jauh dari BSD jadi sekalian ngintip2 sekolah di atas & mulai menebak2.

    • Hihi berarti ngerti banget ya kepusingan, kerempongan dan kegalauan yang gw lagi hadapi ya Rum. Seneng ya sekarang Valisha udah kelas 2. Gimana, so far cocok sama sekolahnya? mudah-mudahan yaa…

      hayoo udah bisa nebak belum sekolahannya apa aja? :D

  14. Meta, gue padamu dah kalo soal sekolah….alhamdulillah masa-masa pencarian SD buat anakku sudah berakhir. Adeknya tinggal ikutin kakaknya ajah. Eh tapi metode Montessori yang kamu bilang bagus itu dan baru aku sadari juga keunggulannya ternyata sudah diterapkan pada TK anak-anakku. Padahal TK ini letaknya di Gg kecil deket kantorku. Sekolahan yang bagus, sayang teman dan orang tua. Urusan agama juga bagus banget. Sangat terjangkau karena si empunya sekolah mensubsidi anak-anak disekeliling sekolah yang kurang mampu. Karena letaknya di gg kecil bukan berarti anak kurang mampu ajah yg sekolah disana, anak mentri, anak anggota DPR juga sekolah di situ. Hebat banget ya. Sebulan sekali juga ada sekolah buat kita orang tuanya. Sayangnya nggak ada SD-nya….makannya sempet rempong survey SD.
    Apapun pilihan SD buat Nara, yang penting anaknya bahagia lahir bathin.

    • Waaa I envy you…beruntung banget dapet sekolah kaya gitu :) mau dong diimelin nama dan lokasi sekolahnya, terdengar bagus banget (apalagi bagian sebulan sekali ada sekolah buat orang tuanya)

      Tapi sayang yaa ngga ada SDnya, coba klo ada pasti lo ngga pusing lagi nyari sekolah. Semoga SD anak kita dapet yang bagus yaa buat si anak.

  15. kebetulan baru aja beberapa hari lalu post soal milih sekolah buat anakku. masi kelompok belajar sih, tp itu aja surey sekolah2 udah dr 1 tahun lalu hehehe. klo aq percaya sama insting anak. jd pas survey bawa anak. klo anaknya enjoy berada di sekolah itu trus dia bisa interaksi sama calon guru & teman2 nya, yo weis aku ikuti masukin sana. soalnya kan nanti yg sekolah si anak bukan ortunya, jd yg penting dia nya harus enjoy. hehehe masi kelompok belajar kali ya jd lebih tenang milihnya. tp siapa tau bs dicoba jg Nara diikutkan dlm survey sekolahnya liat dia suka yg mana. btw titp salam manis ya buat leandra. tetep nge-fans nih ;)

    • Setuju untuk ngandelin insting dan tanya anaknya lebih prefer mana…tapi klo anaknya prefer ke tempat yang (berdasarkan pertimbangan kita) kita kurang sreg, gw masih ngerasa perlu ngarahin dengan kasih dia pertimbangan-pertimbangan…baru deh dia juga ikut memutuskan.

      Thanks yaa Dian masukannya :)

  16. ah metaa emang kita sehati bener deh. gw juga ga suka sekolah Islam Al-Al-an itu. temen gw geblek2 aja dah di sekolah Islam begitu. gw sadar betul kalau kewajiban gw lah mengajarkan agama buat anak2. insyaAllah kalau agama di rumah kuat anak2 kita terlindungi ya met.

    nah 1 kesamaan lagi adalah gw NAPSIR berat sama metode montessori. temen gw yg nyari montessoripun sama aja kebingungannya sama lo. ntar lanjutin dimana? asa nanggung gitu ya kalau dasar montessorinya dah kuat.

    tapi gw yakin met yang penting anak enjoy dulu. mau kemanapun nanti dia sekolah, kalau dia dah cinta belajar bakal survive. kan SD yang paling lama tuh pembekalannya 6 tahun. sooo bisikin dong Met sekolah III itu apa. hihi

    • Hihi bolehh, gw bisikin via email aja yaa :D
      Tega lo, temennya dibilang geblek-geblek aja, hahaha…
      gw dulu waktu SD sempet sekolah di Al-Al-an itu. Emang sih, gw jadi cepet hafal bacaan solat, zikir dan bisa ngaji…tapi gw selalu inget, yang bikin gw sadar untuk solat dengan kesadaran sendiri adalah bokap gw dengan caranya sendiri, bukan guru-guru gw yang galak :P

      Mudah-mudahan gw bisa ngajarin agama sama anak-anak gw, amin.

  17. Halo Mbak Meta, tunjuk tangan untuk lulusan SD yang sealmamater sama TKnya Nara.

    Kalo soal akademis sih, dulu ada kelas unggulan dan non kelas unggulan. Kalo Les, dulu ga ikut les di sekolah. Yaabis lebih mahal daripada kumon+EF dan lebih seneng les di luar sekolah.

    Kalo soal agama, ya gitu deh. Ada SKAI (syarat kecakapan agama islam) buat hafal2annya. Cuma dulu dapet guru agamanya ada 1 yang lumayan buat ngejelasin prinsip2 agama (tapi denger-denger udah ga ngajar lagi). Oh iya SKAI ini buat ngejar nilai agama teori dan praktek, jadinya menggebu2 namatin buku SKAI.

    Kalo eskul, banyak.. Ampe bingung milihnya..

    Kalo pergaulan.. nah ini nih.. kalo skrg ga tau ya, karena pas aku sd kebetulan temen-temenku juga ga semuanya dari kalangan yang tazir-tazir. ya ujung2nya dulu ada geng cantik+tajir. *typicalsekalii* dan yang sisanya ngumpul sendiri.

    Yang aku seneng adalah ada pesantren ramadhannya.. Nah di sini nih suka diomongin agama yang lebih mendalam.. *kalo yang sehari2 ya buat ngejar kurikulum sihh, uhuk*

    Semoga memberi pencerahan.. *tapi kayaknya gak ya,mbak?:P*

    • Haiii Riris,
      makasih yaa tambahan pencerahannya…makin mantep deh ngambil keputusannya, hehe.

      btw gw kan ngga pernah sebut klo sekolah I ini sekolahnya Nara sekarang? haha kamu keren sekali deh :)

  18. akupun…akupun sering dianggap ribet soal sekolah Met. Masih labil , soalnya. Kalo Edi kan sekali suka , dia sudah tebas semua kekurangannya ya. Lah aku, suka tapi mikir ini lah itulah. Nanti aku mau link ke sini, pas bikin post soal pencarian sekolah (oh, lagi, Ndang? bikin jurnal soal itu lagi?) lagi. Waktu aku tanya ke Edi, kita ini rempong bgt gak sih, jawaban dia lempeng “Ya harus rempong lah, kalo semua berjalan baik kan artinya anak kita bakal ada di sekolah itu setiap hari dari jam 7 sampe jam 1, setiap hari selama ENAM TAHUN. Ya jelas kita harus bener bener serius mencari tempat yang emang cocok buat dia biar dia menikmatinya” pas dia udah ngomong begitu, aku ‘memaafkan’ kerempongan kami. Hihihi.
    Nara, semoga suka dan bahagia ya di sekolah yang dipilih Bunda dan Ayah. Proses milihnya dilakukan penuh doa dan cinta….dan sampe ada background babi ngepet hahahahaa
    Btw aku suka kalimatnya, taking a leap of faith. Bikin hati tenang setelah melakukan semuanya ya. Yang penting bagian kita udah dilakukan, tinggal Tuhan yang sempurnakan.

    • Setujuuu sama Edi :)
      walaupun gw sedikit ngerasa agak lebay kemaren sampe pengen minta AD/ART sekolah III, haha *mulai gila*

      Duhh ndang, tiap kali dapet komen dari lo, hati gw kok langsung adem yaa….thanks yaa :* :* :*

  19. Metaaaa..apa?? Sekolah no 3 lbh mahal dari no 2???? * shock* Pdhl yg no 2 itu ga pernah gw masukkin list krn ngeri ama biaya ‘pergaulannya’ loh… Yakin ga ada borjuisme di yg no 3 met? Jadi ragu deh gw *lirik list sekolah* hehe..
    Semoga Nara cocok ya di sekolah pilihan elo..

    • Iya Med, huhuhuuu gw abis ngitung total untuk tahun pertama (yang terberat kan, karena ada enrollment fee) bedanya sampe 7jt bok *nangis* tapiii di sekolah III itu udah termasuk snack dan lunch, hihi tapi tetep ajaa, emangnya lunch dan snack Nara setahun sampe 7jt gitu? hihihi…

      Haha soal borjuisme, ngga jamin sih…tapi muridnya kan lebih dikit jadi klopun ada yang ‘lebih’ dan show off, persentasinya ngga akan sebanyak di sekolah II? *asumsi ngasal* :P

  20. Seneng deh baca postingan tentang sekolah di BSD ini soalnya akupun akan bergabung jadi warga BSD dalam beberapa bulan kedepan. Insya Allah. Mba Meta mau dong dibisikin nama2 sekolahnya di postingan ini, anakku sih masih nyari KB tp boleh ya buat bekal SDnya nanti. Salam kenal untuk Nara dan Leandra, dan berharap suatu hari nanti bisa ketemu mba Meta somewhere in BSD.

  21. Dear Mba Meta,
    been your silent reader all these years. Tapi berani ngasih komen begitu baca yang berbau ‘sekolah’. Disini sama lagi pusing mikirin sekolah anak yang mau masuk…playgroup. errrr…baru playgrup aja udah pusing, gimana ntar TK, SD, SMP, SMA, kuliah?*pingsan kuadrat*. dirikuh sempat curhat ke orangtua dirumah. dijawabnya,’Sebagus apapun input sekolahnya, kalau ga di-review di rumah ga akan dapet efeknya’. cetaaaar..hmm,kayaknya ada benerny juga. liat ada keponakan disekolahin di tempat yang bagus banget, tapi emaknya jadi ‘ongkang2 kaki’ ga review apapun lagi (pelajaran, hardskill, softskill etc), si anak jadinya ga ‘keliatan apa2nya’. anyway, percaya banget dimanapun anaknya mba meta disekolahin, insyAllah Nara bakal jadi anak yang hebat :) . secara, orangtuanya concern dan peduli :) . semoga diberikan yang terbaik yaaa .salam kenal!

    • Bener banget…mau dimanapun sekolahnya, anak kita akan terekspos sama anak-anak dari keluarga lain yang bisa jadi visi misi dan filosofi pengasuhan anaknya beda sama kita, trus anak kita bakal dapet info-info atau influence lain di luaran yang sama sekali di luar kontrol kita…jadi yang bisa kita lakukan ‘cuma’ meluruskan semua hal yang dia terima di luar itu.

      Trus jadi mikir dalem…udah bagus belum yaa komunikasi gw sama anak gw? Percuma kan semua yang gw bilang barusan klo anaknya ngga mau cerita apa-apa di rumah? *merenung*

  22. Jadi musti reksadanain berapa jaman si baby K ini lahir ntar buat sekolah !___! *skip stress lahiran dulu, hahaha **daftar financial planning

    • Eh jadi inget, kapan ada training finplan lagi? jangan lupa daftar yaa…nanti uni ingetin mas Pandu deh. Ntar klo udah ikutan itu masih bingung bikin plannya, uni bantuin oke :D don’t worry, we’ll sort it out bibi for baby K :*

      • Loh, yg daftarin finplan bukannya Uni+Mas Pandu? Adek sama Edo tinggal duduk manis gitu? hahahahaaa..
        Beklah, kudaftarkeun finplannya, sisanya bantuin ya :(
        Arigatou Tante Meta :*

  23. Dear Meta…

    Duh sukses nih bagi bagi puyeng nya. Ahahahaha…
    Tapi setuju banget bahwa milih sekolah itu harus dilakukan dengan seksama. Gue aja baru milih pre school yang sekolahnya maksimal cuma 3 kali seminggu aja galau melulu bawaannya. Apalagi SD ntar ya.. Makasih banyak nih udah di share uneg-uneng nya soal milih sekolah jadi at least ada bayangan dan ada dorongan lebih kuat buat nanem pohon duit di belakang rumah… *soalnya babi ngepet kan udah gak heits lagi.. monyet ngepet udah di ambil sama lo kann..

    dan taking a leap of faith itu berlaku memang untuk semua aspek ya bo sepertinya..

    • Halo Ananta,
      Sebenernya iya berlaku untuk segala hal…kan ada namanya tawakkal, kita berusaha semaksimal kita terus sisanya serahin ke Yang Di Atas. Cuma buat urusan milih sekolah ini bener-bener kerasaaa banget ngambil risikonya…

      beli dimana bibit pohonnya? mau juga dong…

  24. Mbak Met kalo sedari kecil anak di-push buat saingan, apa-apa saingan, mulai dari nilai, atau ‘harus jadi yg juara 1′ sampe ke ‘mobil Innova yang cuma 1′ sepertinya mengerikan banget yah.

    Anak yg begini nih takutnya yg ketika kerja, bakal menerapkan ‘Office Politics’ dengan semangat : sikut sana sikut sini, manis depan tikam belakang, dan suka tertawa di atas kegagalan orang lain, karena si anak tersebut sedari kecil di push untuk selalu menang instead of bertoleransi & bersahabat…. *hahahaha.. maaf kalau terlalu parno*

    Nilai atau ranking bukan segalanya ya Mbak, yang paling penting adalah akhlak baik yang bisa mengawal anak kita ke situasi apapun dan bagaimanapun dia temui kedepannya :)

    Semoga Mbak Meta bisa memilih sekolah nya Nara secara bijak :) :)

    Nice post mbak ! ^_^

    • Menurut gw dimana pun sekolahnya, tetep aja yang berpengaruh lebih besar itu didikan di rumahnya. Percuma juga klo di montessori udah diajarin mandiri, good manner, respect other people tapi di rumah sering dipukul sama bapak ibunya? yang ada anaknya bisa labil karena bingung yang mana yang bener sih? Begitu juga sebaliknya, di lingkungan yang kompetitif itu belum tentu nanti gedenya jadi sikut-sikutan dan tikam belakang, balik lagi ke rumahnya gimana. Karena tugas kita sebagai orang tua di rumah adalah untuk meluruskan semua info/ajaran yang didapet anak di luar rumah kan?

      Thanks yaa Naia, bismillah semoga keputusan kita adalah yang terbaik buat Nara.

  25. hihihihi, met, puyeng bacanya, (puyeng, deg2an, kayak baca novel horor, asslii deh..)padahal kizy baru sebesar leandra..
    Sekarang mah kizy aku masukin PAUD aja deket rumah, murah meriah, uang pangkal 500rb 2 tahun, 75rb buat uang bulanan sama tabungan yang akan dikembalikan 50rb sebulan..3 kali seminggu @2 jam,..biar kizy kenal orang aja..
    btw, mau nanya, gimana pengaruhnya sekolah monterssori sama leandra ..hehehe, agak nyebrang ni nanyanya..hihi, dibahas dong met..(hahaha, nambah tugas si meta kikikikik…)
    oia, dosen aku pernah ngomong, bagus enggak nya suatu badan bisa diliat dari WC nya..hahaha..
    eh iya met, aku sih setuju banget masalah montessori,karena biar bagaimana pun sepertinya EQ lebih menunjang dalam ketahanan hidup dibanding IQ..naaah, masa2 emas gini emang bagus nya di penerapan EQ…cuma kalo ngeliat kedepannya, sekedar ngasi saran, kalo kelas 1-3 nya di montessori, tapi pas kelas 4-6 di sekolah 2 gimana??artinya doble dana ya??
    adduh (tambah puyeeng….@_@), musti nabung berapa si tiap bulannya buat pendidikan anak, jadi ngerasa bersalah kalo wiken ke mol..hikshiks.. dibahas juga dong met..(PR meta tambah banyak, kikikikik), itung2 kuliah gratis..hihihi nambahin amal jariyah met..
    Sukses terus ya kakak nara dan Leandra..diinget2 yaa buat sayang ayah bunda, karena untuk urusan sekolah aja bisa buat ayah bundai tidak tidur nyenyak.. =* kiss kiss buat kakak nara dan leandra..

    • Haha Happy ngerjain…
      kapan-kapan gw bikin postingan (ala gw) soal topik-topik yang lo sebutin ya.

      Leandra udah 6bulanan di montessori. Yang jelas keliatan banget adalah dia mandiri. Pake baju maunya sendiri, makan (kadang-kadang sih) minta sendiri, pake sepatu sendiri, toilet training lancar banget. Yang bikin terharu waktu dikirimin foto sama guru kelasnya klo Leandra lagi ngajarin anak baru di kelasnya. Itu sesuatu yang montessori banget menurut gw, karena dulu waktu Leandra baru masuk juga ada beberapa anak yang ngemong banget sama anak-anak baru. Jadi anak-anak disana keliatan pede, punya compassion dan ngerasa bertanggung jawab sama yang lebih kecil.

      Hihi, setujuuu soal wc. Ngga cuma soal badan/perusahaan…klo ke rumah orang pun gw suka menilai dari toilet/kamar mandinya :P

  26. Akhirnya ada yang kepilih juga ya, Met… senang ih dirimu sudah hampir selesai masa-masa labil nan galau.

    Aku masih ada 2 tahun penuh kelabilan dan obsessive searching. hihihi… Ampyuuunn, memilih sekolah untuk anak-anak lebih ribet daripada kawin.. melebihi keribetan membeli rumah menurut gw. hoooooossshhaah.

    • Akhirnya milih juga La, terpaksa milih karena udah abis waktu galaunya…
      bismillah aja deh, semoga gw ngga menzalimi Nara dengan keputusan gw.
      Bener banget tuh, milih sekolah lebih pusing dibanding waktu ngurusin kawinan deh…

  27. Meta, aku juga minta dibisikin dongs nama sekolahnya. Akhirnya gw juga jadi labil soal sekolah anak. Beneran deh, sampe suamiku juga stress ngeliat aku tiap hari ngomongin soal sekolah anak. Thanks, Meta :) . Salam.

  28. Masalah teremak2!!! Gue pun udah mulai mikirin preschool buat Madeline dan udah mulai puyeng. Gimana kalo ntar SD ya?
    Apapun pilihan lo dan Pandu, smoga jadi pilihan yang terbaik buat Nara ya. Semoga dia enjoy di sekolahnya.

    • Amin, bismillah aja deh jadinya…*kemaren abis bayar enrollment fee* :D
      the decision has been made :)

      Mumpung Maddie masih bayi Ngel, jadi lo punya banyak waktu buat pilah pilih jadi nanti bener-bener sreg pas daftarin Maddie sekolah :)

  29. Hi Meta, seru bacanya hahaha..
    memang pilih sekolah anak bikin pusing, apalagi di jaman pemerintah suka gonta ganti kurikulum jadi super ajib.. jadi milih sekolah harus hati2.. tu sekolah mesti “kebal” sama ababil nya pemerintah kekeke..

    Nara pasti bangga, mamanya mikir sampe puyeng survey sekolah dia hahahaha.. semoga pilihannya pas buat Nara :) :)

  30. Hai Met… baca postingan kamu yang ini kayak ngaca ama pengalaman sendiri deh..

    Anakku rencananya baru mau masuk TK Juli nanti, berkali-kali udah minta disekolahin sih, tapi selama ini baru survey-survey doang.
    Terakhir kami udah survey ke Sekolah II dan salah satu sekolah Islam yang mirip ama Sekolah I di postingan kamu ini.

    Tapi ya sama tuh Met, anakku di sekolah islam ini juga dapet waiting list ke-9 (TK loh ini.. bukan SD). Nunggu daftar ulang dan nanya beberapa kali, tetep aja gak naik-naik urutannya. Malah disaranin oleh mereka untuk cari sekolah lain. *sigh* Padahal anakku udah suka. Dan aku suka karena on budget, lokasi deket bgt dari rumah, dll.

    Trus, untuk Sekolah II aku juga suka karena deket bgt dari rumah (btw aku di kluster Giriloka), dan fasilitasnya bagus. Cuman ya itu, anakku kayaknya prefer yang Sekolah Islami tadi. Sayang akhirnya malah disuruh cari back up sekolah lain.. :(

    Nah, berhubung anakku baru mau masuk TK, mau dong Met, di-email-in nama sekolah III, biar bisa ajak anakku survey kesana. Boleh gak? Maklum di BSD sekolah anak banyak, tapi kan aku butuh rekomendasi dari ibu-ibu yang anaknya/anak kenalannya pernah sekolah di tempat tersebut.

    Hiks.. Galaunya ibu-ibu jaman sekarang gini amat ya… Milih sekolah aja dilematisnya parah..

    Thanks for your help ya Met. Kisses utk Nara dan Leandra.
    Thanks for your help ya Met…

  31. Meett aduh gue aja yang anaknya baru mau masuk toddler class udah pusing, dan berasa kayak udah harus mikirin dari sekarang nanti TK kemana, SD kemanaa gyaahhh nda kebayang deh kalau udah harus mikirin beneran *berpelukan sesama ibu2*

  32. halo mba meta, salam kenal drs esama warga bsd yg jg penggemar blog mba meta hihi *jabat tangan*

    mba nt boleh ya bisikin di email apa nama sd montessori yg diceritain di no 3 itu:p

    aku teratrik ma metode montessori, awalnya pas baca2 tentang sekolah ‘rumah bermain padi ‘di cigadung bandung, kyknya syik bgt skulnya dan guru2nya. pemiliknya salahsatunya ternyata tingal di bsd dan mulai april ini buka sekolah montessori dengan konsep yang sama dgn ‘rumah bermain padi’ hanya yg di bsd bukan montessori islami spt di bandung.
    term 1 barudimulai april 2013 ini:) uang pangkalnya jg murmer 2,150 jt, uang kegiatan 3,6 juta per tahun (dibayarkan 900 rb/trimester) dan uang skul 400 rb,
    alamatnya di:
    Jl. Kencana Raya Blok J5/7 Kencana Loka BSD Sektor 12 Tangerang Selatan
    Tlp. 021.70777005 (Hotline : 0812.239.5704)
    Email : montessori4everyone@gmail.com
    Website : http://www.rumah-montessori.blogspot.com
    aku pingin ajak si bungsu trial di sini:D tertarik ma metodenya jg sosok bu ivy yang enak diajak diskusi dan murmeer (ini yg penting haha)

    • Halo sesama warga BSD :) nanti aku email ya nama sekolahnya.
      Aku baru denger tentang rumah bermain padi ini, kayanya menarik ya. Di BSD udah makin banyak sekolah berembel-embel montessori juga ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>