S*x Talk
S*x Talk
Saat yang paling nggak gw tunggu-tunggu deh.
Yaitu saat dimana gw dan Pandu musti ngebahas soal where-does-the-baby-come-from? Sama Nara…Gw tau saat ini akan terjadi, soon or later dalam hidup gw. Tinggal nunggu telornya pecah aja. Gw dan Pandu berniat nggak akan boong atau menutup-nutupi soal s*x, pengennya bisa diomongin sejujurnya sesuai tingkat curiosity-nya Nara aja dan mempertimbangkan umurnya Nara, jadi bisa jawab seperlunya aja…maksudnya, gak perlu di umurnya yang segini udah ngomongin frees*x kan? Hihi.
Tapi emang tetep aja ya rada salting aja klo tiba-tiba musti ngomongin ini sama Nara mengingat gw dan Pandu dulu juga nggak pernah ada s*x talk dengan ortu kita. Kayanya memang umumnya ortu-ortu jaman dulu nggak ada yang melakukan s*x talk sama anaknya ya? Nah, gw ngga pengen kaya gitu…gw pengen gw dan Pandu bisa ngobrol apapun sama Nara dan Leandra, termasuk soal yang satu ini. Hal ini udah dimulai dengan kita membiasakan menyebut alat vital dengan nama sesungguhnya dengan Nara, nggak pake istilah lain seperti ‘burung’ atau apalah. P*nis is P*nis. Walaupun to be honest, gw masih salting buat nyebut v*g*na ke Leandra…huaaa. See, ini kemungkinan besar karena dari kecil kita diajarin untuk menganggap hal ini tabu. Lah, padahal klo dipikir buat apa salting ya ngomong v*g*na? itu kan anggota tubuh sama halnya dengan hidung dan tangan bukan?
Anyway, beberapa malam lalu…setelah Nara manggil gw Putri Bunda, tau-tau the-s*x-talk terjadi…just like that percakapannya mengalir kesana. Berawal dari ngomongin soal adek kakak.
Nara : Bunda kangen nggak sama adeknya?
Me : iya kangen deh sama bibi…abisnya jarang ketemu ya, gara-gara sekarang kita rumahnya udah ngga deket lagi sama rumahnya bibi.
Nara : makanya, adek sama kakak itu harusnya tinggal bersama. Kaya Nara sama Leandra
Me : iya sih, tapi kan Nara sama Leandra masih kecil…makanya masih tinggal bareng ayah bunda. Klo Nara nanti udah besar trus udah menikah juga akan tinggal sama istrinya, nggak tinggal sama ayah bunda lagi.
Nara : kenapa?
Me : ya karena klo orang udah menikah tinggalnya sama suami atau istrinya…ngga sama ayah bundanya lagi.
Nara : kenapa ayah sama bunda menikah?
Me : *mulai garuk kepala…kenapa ya?* Karena ayah sayang sama bunda dan bunda sayang sama ayah
Nara : iyaaa, tapi kenapa harus menikah?
Me : *errr mulai bingung jawabnya* supaya ayah sama bunda punya anak kaya Nara dan Leandra *nyari jawaban aman*
*yang ternyata salah* *and this is where the s*x talk began*
Nara : jadi Nara lahirnya gara-gara ayah bunda menikah? Gimana caranya?
Me : kan Nara lahir dari perut bunda
Nara : iyaa Nara tau, tapi gimana caranya? Bunda makan yang banyak sekali ya supaya perutnya bisa gendut dan ada Nara di dalemnya?
Me : *agak tersinggung dikit, emang sih perut gw gendut…tapi MUSTI ya disebut-sebut terus?* *sempet tergoda untuk mengiyakan aja, daripada ribet ngejelasin darimana-datangnya-bayi* bukan karena makan yang banyak kak…
Nara : trus gimaaanna?? *mulai gak sabar*
Me : Ayah ngasih bunda cairan pembuat anak *don’t laugh…that was the best argument I could think of at that moment!!!*
Nara : cairan apa?
Me : ya kan di tubuh kita ada macem-macem cairan. Ada keringet, ada darah, ada pipis…nah ada juga cairan pembuat anak. Bunda dikasih itu sama ayah, trus cairannya bisa jadi Nara deh di dalem perut Bunda.
Nara : cuma laki-laki yang punya ya? kaya perempuan gitu, yang bisa hamil kan cuma perempuan ya bunda.
Me : yap betuulll…
Nara : ooogitu…klo darah itu kenapa merah warnanya?
Horeeee ganti topik!
I FEEL SO SMART!!! Bisa bikin Nara puas dengan jawaban gw, huahahaha.
Lega aaabiss percakapannya udah berenti disitu.
Lega karena gw ngga bohong.
Lega karena gw bisa jawab dan Nara cukup puas dengan jawaban gw.
Lega karena bisa sok cool ngobrolinnya padahal agak keringet dingin, haha…
Dan dimanakah Pandu saat percakapan ini terjadi? Mengapa dia tidak membantuku? Karena Pandu lagi TELFONAN dan dia selamat nggak perlu ngomong apa-apa.
Telfonannya selesai passs gw sama Nara udahan ngobrolin topik ini.
HUH!








